Thursday, August 25, 2016

Dua Puluh Empat Jam yang Sama

Dua puluh empat jam sehari. Milikku, milikmu dan milik orang-orang terhebat sejagad raya. Itulah salah satu bentuk keadilan Tuhan bukan, Dia tidak melebihkan waktu barang sedetik pun bagi menteri, presiden atau orang-orang yang merasa dua puluh empat jam sehari adalah waktu yang sangat sempit, pun Dia juga tidak mengurangi jatah dua puluh empat jam bagi para pecundang, penjahat atau sampah masyarakat sekalipun.


Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merutuki takdirnya, menyebut Tuhan tidak adil, menyalahkan hidupnya yang dikatakannya selalu sial dan merasa menjadi orang paling malang sedunia. Milik orang-orang yang menerima segala yang digariskan dengan keridaan, menjalani takdirnya dan mencari cara terbaik menjalani kehidupan dengan apapun yang dipunya.

Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang merasa tak punya bakat, kemampuan atau kesempatan. Milik orang yang merasa ia bodoh dan memilih menjadi bodoh dengan tidak belajar, tidak berkembang atau memilih mengurung dirinya dalam kekurangannya. Milik orang yang merasa bodoh lalu mencari cara untuk menjadi tidak bodoh. Milik orang yang percaya bahwa nasibnya tidak akan berubah selama ia tidak mengubah dirinya.

Dua puluh empat jam yang sama. Milik orang-orang yang lalai dan terbuai dunia. Milik orang yang melupakan Tuhannya atau bahkan mengingkari-Nya. Milik sang pendosa yang lantas menyesal dan memohon ampun. Milik orang-orang yang selalu berusaha hidup dalam ketaatan.

Dua puluh empat jam yang sama.
Dua puluh empat jam yang ku pilih bagaimana ia akan berjalan
Dua puluh empat jam yang kau pilih bagaimana ia akan menjadikanmu

Dua puluh empat jam yang sama. Dan hidup adalah tentang pilihan bukan?
___
Penulis: Monilando

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search