Wednesday, February 10, 2016

Raffa dan Iqra

baselo.com


Namanya Raffa, umur sebenarnya tak dapat saya tebak tapi dia mengaku masih bersekolah tingkat kanak-kanak. Dan sore itu saya takjub karena dia.

Raffa bisa dibilang keponakan saya karena ayahnya adalah putra dari kerabat ibu. Silsilahnya rumit kalo diurai dengan kata-kata. Raffa dan orang tuanya tinggal tak jauh dari rumah orang tua saya.

Sebagaimana anak-anak kecil pada umumya saya sering melihat Raffa bermain-main sekitar pekarangan sepanjang hari. Namun satu hal yang bikin saya bingung, entah kenapa saya cenderung tak menyukainya. Tidak menyukai dalam arti dia tampak agak badung dan cenderung jahil kepada teman-temannya. Daripada terlibat masalah dengan orang tuanya karena ulah jahil dia, saya lebih memilih menghindari setiap pertemuan dengannya. Alhasil dia kurang mendapat perhatian saya seperti keponakan saya yang lainnya.

Namun sore itu, dia menyadarkan saya dengan telak bahwa jangan pernah menilai orang dari tampangnya.

Ya. Kebadungan Raffa hanya saya dengar dari aduan keponakan saya yang lain. Sikapnya ke saya biasa saja. Tapi tampangnya itu yang membuat saya menilai dia mungkin anak badung.

Hingga sore itu dia minta ikut ke mushalla untuk melihat saya ngaji. Karena tidak boleh menyeberang jalan sendiri mungkin dia telah menunggu kemunculan saya cukup lama.

Sampai di mushalla, saya suruh dia berwudhu sebelum masuk. Dia yang tadinya siap-siap membuka pintu melangkah gegas ke tempat wudhu.

"Coba Raffa yang ngaji. Mamak mau dengar"

Secepat kilat dia menggelengkan kepala pertanda menolak permintaan saya tapi sinar matanya jelas tampak percaya diri.

"Hayolah. Jangan malu-malu"

Kepala menunduk dan tangan dikepit,dengan suara kecilnya dia mengaku belum bisa ngaji Qur'an. Dia baru sampai Iqra 3.

Saya sodorkan buku Iqra dan dia segera membolak-balik halaman. Entah apa maksudnya, saya menduga dia sengaja membolak-balikkan halaman dengan begitu lama agar permintaan saya untuk menyuruhnya mengaji dibatalkan.

Dugaan saya meleset. Setelah menemukan halaman yang dia mau, segera dia mulai membaca Iqra sampai-sampai lupa membaca bismillah dahulu.

Ini yang membuat saya takjub. Dia membaca huruf-huruf Iqra 3 dengan begitu lancar. Tampak dia begitu bersemangat seakan-akan sudah lupa dengan keadaan sekitarnya.

Begitu sampai kalimat petunjuk dalam Iqra 3 yang berbahasa Indonesia, dia menggeleng lagi karena tak bisa membacanya.

Baca Iqra 3 dia bisa. Baca kata bahasa Indonesia dia malah gagal. Saya takjub bin bingung.

"Awak masih TK" ujarnya polos.

"Siapa yang ngajarin Raffa ngaji?"

"Ibuk"

Ketakjuban saya berlanjut.

Siapa sangka siapa duga, bocah laki yang sempat saya tuduh badung dan nakal rupanya mampu mengaji Iqra tak seperti anak-anak seusianya. Saya dirudung sesal.

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search