Saturday, January 23, 2016

Mafia atau Mitra Masyarakat

Saya sedang berpura-pura melihat papan informasi ketika seorang ibu paruh baya berseragam polisi memasuki pekarangan kantor desa lalu mencongkel salah satu pot. Sebentar saja ibu berbadan besar itu mendapat seikat bunga dan tanpa sepatah kata pun beliau berlalu, kembali ke pos.

Sekarang pekarangan pos polisi di samping kantor desa itu tampak lebih indah.

"Sama kayak Israel minta tanah, susah diminta kembali kalo tanah dikuasai polisi" ujar seorang bapk disamping saya

Pagi itu sejumlah aparat polisi tampak sibuk bergotong royong membersihkan bangunan di samping kantor desa. Memang tak semua bekerja. Sebagian ada yang berfoto ria, merokok dan yang lainnya berdiri tegak dengan sekali-sekali memberi komando.

Mereka kembali.

Dulu tanah dan bangunan yang "diserobot" polisi pagi itu adalah tanah milih nagari. Sekarang pun masih karena perjanjian telah dilanggar oleh pihak kepolisian.

masjid al furqan sikapak

Tahun 2003, Kerapatan Adat Nagari (KAN) memberikan hak guna atas tanah disamping desa untuk dikelola oleh pihak kepolisian dengan syarat apabila dalam jangka waktu 3 tahun tidak ada pembangunan maka status tanah dikembalikan kepada nagari.

"Kami tidak punya anggaran. Mobil dinas tak ada, itu pemberian pak walikota. Bahkan kalo hujan rumah dinas kemasukab air setinggi betis" keluh Ricko, Kapolres Pariaman.

Saya selalu mual mendengar gaya bicara "kasihinilah kami" apalagi jika dituturkan oleh seorang yang notabenenya dikenal pribadi yang kuat, tegas dan bernyali seperti sekawanan polisi ini. Maka dalam acara temu ramah di Masjid Al Furqan kemaren wajar rasanya banyak masyarakat nagari langsung pamit kala Kapolres mendapat giliran bicara.

"Saya akui banyak anggota kami yang brengsek. Tidak semuanya baik. Wajar ya karena kita manusia biasa, bukan malaikat" sambungnya.

Rupanya polisi berbakat menarik empati siapapun. Politik "kami pantas dikasihani" berjalan efektif. Masyarakat tampak terenyuh bahkan sebagian menunduk dihinggapi rasa bersalah.

"Demi Allah saya tak tahu kalau ada KAN. Begitu ada anggota memberi tahu ada pos di Sikapak dan mengajak gotong royong membersihkannya saya setuju saja"

Bila strategi "kasihinilah kami" berjalan sukses maka biasanya diikuti dengan gaya eksklusifitas yang seakan sudah menjadi jari diri.

"Bila KAN ingin mengambil kembali tanah tersebut, adakan musyawarah. Undang kami. Kami siap datang. Kalo perlu undang walikota, wawa, camat dan yang lainnya" ujar Kapolres baru itu sambil menyeruput air mineral.

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search