baselodotcom
Loading...

Tingkatan - Tingkatan Dalam Hidayah (2)

Sejarah manusia berasal dari seorang nabi yang menerima kalam dari Allah. Namun persoalan akidah tidak pernah berubah. Agama yang diridhai R...

Sejarah manusia berasal dari seorang nabi yang menerima kalam dari Allah. Namun persoalan akidah tidak pernah berubah. Agama yang diridhai Rabb kita, Rabb semesta alam, sejak zaman nabi Adam hingga akhir zaman adalah Islam. Allah berfirman, "Barangsiapa yang mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi" (Ali Imran 3: 85)

Tingkat kenabian yang disandang oleh Adam merupakan peringkat hidayah yang paling tinggi. Imam Ibnul Qoyyim menggenapkan-peringkat peringkat hidayah tersebut hingga mencapai sepuluh tingkatan.

Baca Juga: Tingkatan - Tingkatan Dalam Hidayah (1)

Tingkatan Keenam


Penjelasan umum. Yaitu penjelasan kebenaran dan perbedaannya dengan kebatilan disertai dengan dalil-dalil, bukti-bukti dan tanda-tandanya. Tingkatan ini merupakan hujjah Allah kepada hamba-hamba-Nya. Dia tidak mengazab atau menyesatkan seorang pun kecuali setelah datangnya penjelasan umum ini kepadanya. Allah SWT berfirman, "Allah sekali-kali
tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka, hingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka jauhi.." (At Taubah 9: 115)

Tingkatan Ketujuh


Penjelasan khusus. Yaitu penjelesan yang berdampak pada diperolehnya hidayah khusus. Yakni penjelasan yang disertai dengan pertolongan, taufik, pemilihan, penghapusan sebab-sebab dan faktor-faktor kesengsaraan dari hati. Sehingga tidak ada hidayah yang luput darinya. Allah berfirman, "Jika kamu sangat mengharapkan agar mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tiada memberikan petunjuk kepada orang yang disesatkannya..." (Al Nahl 16: 37)

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya..." (Al Qoshosh 28:56)

Tingkatan Kedelapan


Isma'. Allah SWT berfirman, "Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan-kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar. Dan jikalau Allah menjadikan mereka dapat mendengar, niscaya mereka pasti berpaling juga, sedng mereka memalingkandiri (dari apa yang mereka dengar itu)" (Al Anfal 8: 23)

"...sesungguhnya Allah memberikan pendengaran kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan kamu sekali-kali tiada sanggup menjadikan orang yang di dalam kubur dapat mendengar. Kamu tak lain hanyalah seorang pemberi peringatan" (Fathir 35: 22-23)

Mendengar disini lebih khusus daripada sekedar mendengarkan argumentasi dan tabligh. Sebab hal itu terjadi pada diri mereka . Dan dengan itu pula telah tegak hujjah bagi mereka. Sedangkan isma' disini adalah mendengar dengan hati. Allah SWT menyatakan bahwa orang-orang kafir tidak mampu dengar maksud dari sebuah ucapan yang merupakan tugas hati. Allah hanya menyatakan bahwa mereka mendengar lafazh ucapan semata, yang merupakan telinga. Yaitu yang tertera dalam firman Allah, ''Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun yang baru (diturunkan) dari Rabb mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedangkan mereka bermain-main (lagi) hati mereka dalam keadaan lalai..." (Al Anbiya 21: 2)

Pendengaran seperti ini tidak berguna bagi si pendengar, selain sekedar tegaknya hujjah baginya atau ia berada dalam hujjh tersebut. Adapun maksud, mamfaat dan hal yang dituntut darinya atas pendengaran tersebut tidak dapat dipetik oleh hati yang lalai dan berpaling. Bahkan ia akan keluar seraya berkata kepada yang ikut hadir bersamanya, "...apa yang dikatakannya tadi? Mereka itulah orang-orang yang hati mereka telah ditutup oleh Allah..." (Muhammad 47: 16)

Mendengar itu ada tiga tingkatan yakni mendengar dengan telinga, mendengar dengan hati, serta mendengar yang disertai sikap menerima dan mengikuti.

Peringkat Kesembilan


Ilham. Allah SWT berfirman, "Dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya" (As Syams 91: 7-8)

Nabi SAW pernah mengajarkan doa kepada Hushoin bin Khuza'i, ketika ia masuk Islam
"Berdoalah, Ya Allah, ilhamkanlah kepadaku kebenaranku dan lindungilah aku dari kejahatan nafsuku"

Sifat tahdits lebih khusus dibandingkan dengan ilham. Ilham diberikan secara umum kepada orang-orang yang beriman sesuai dengan kadar kadar iman mereka. Setiap orang yang beriman telah mendapat ilham dari Allah untuk mengikuti kebenaran, yang diperoleh dari keimanannya tersebut. Adapun berkenaan dengan tahdits, maka Nabi SAW telah bersabda, "Jika ada seorang di kalangan umatku yang mendapat tahdits, maka ia adalah Umar". Yakni ia termasuk orang orangorang yang mendapatkan tahdits.

Tahdits adalah ilham khusus berupa wahyu yang diberikan kepada selain nabi. Terkadang wahyu tersebut diberikan makhluk yang mukallaf, seperti yang tertera dalam firman Allah, "Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa, 'Susuilah dia!'..." (Al Qoshosh 28: 7)

"Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan kepada pengikut Isa yang setia, 'Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rosul-Ku'..." (Al Maidah 5:111)

Juga, diberikan kepada makhluk yang tidak mukallaf, seperti yang tertera dalam firman Allah, "Dan Rabbmu mewahyukan kepada lebah, 'Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu dan di tempat-tempat yang dibikin manusia'.." (An Nahl 16: 68)

Tingkatan Kesepuluh


Diantara tingkatan hidayah adalah mimpi yang baik yang merupakan salah satu bagian dari kenabian. Sebagaimana telah diriwayatkan dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda:

"Mimpi yang benar merupakan satu bagian dari empat puluh enam bagian kenabian"

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa ia merupakan bagian satu dari tujuh puluh bagian kenabian

(Diintisarikan dari buku Bertakwa Tapi Tak Dikenal. Sa'id 'Abdul 'Azhim. Hal 37-50)

 
Kultwit 3812537527671207261

Home item