Friday, November 06, 2015

Merenung di Keheningan

Ditengah keheningan, aku mencoba merenung untuk melihat keadaan diriku. Aku tertegun .
Aku ini menjadi seorang penganut agama Islam, karena terlahir dari ayah dan ibuku.
Kucoba telusuri lagi yang lain, kakek dan nenekku, buyut-buyutku, kaum kerabatku, baik yang berasal dari pihak ayah maupun dari pihak ibuku, mereka semua sebagai pemeluk agama Islam.
ya Allah, Engkau sebagai pemilik sifat rahman dan rahim.
Sungguh Engkau telah berikan sifat Rahman-Rahim-Mu kepadaku.

Dengan karunia Mu, tanpa ku minta, Engkau telah takdirkan aku untuk dilahirkan dari lingkungan keluarga yang Islam.
Tapi setelah usia ku semakin dewasa, aku bertanya-tanya pada diriku sendiri: Apakah aku ini sudah menjadi muslim yang sesungguhnya?

Sering kali aku shalat atau puasa karena merasa terpaksa. Sering kali aku infak, zakat, dan shadaqah diikuti rasa riya'. Sering kali aku merasa ingin dipuji-puji banyak orang, merasa paling pintar atau paling hebat.
Seringkali aku tidak bisa menahan nafsu amarah. Sering sekali dan banyak sekali rasanya perbuatan-perbuatanku yang menyinggung atau bahkan menyakiti orang.

Sungguh pertanyaan-pertanyaan dan keadaan diatas membuat aku gelisah, membuat aku merasa sedih dan resah, Membuat aku berpikir dan terus berpikir. Akhirnya aku merasa aku harus mengislamkan lagi diriku yang sudah Islam ini.

Ya Allah, aku tidak tahu berapa sisa jatah usiaku ?
Jadikanlah sisa hidupku lebih bermakna dihadapan-Mu dari yang telah kujalani selama ini.

___
Catatan Akhu Bukhan Siaphasiapha

1 comment:

  1. […] bahkan hasil ketikan kita dicoret-coret oleh beliau, terlebih saat kita sukses sidang skripsinya. Sabar tetap harus ada agar kita tidak merasa puas dan […]

    ReplyDelete

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search