Thursday, November 19, 2015

Memilih Hari nan Sehari

Saya meyakini sebenarnya orang Pariaman tidak mengenal ramalan hari baik. Semacam primbon, fengshui, zodiak dan segala macam ilmu astrologi lainnya.

Apapun harinya, semua baik. Tak peduli pun tentang niat yang diusung,  menghabiskan hari untuk pemilihan hari yang baik jarang terjadi.

Dalam hal teman saya yang bakal dilamar malam ini, secara adat ini tentu bukanlah tentang mencari yang baik. Kedua pihak keluarga semata-mata berkumpul demi merundingan kata mufakat. Kato nan bulek. Tentang memilih hari nan baik, kutiko nan elok.

Agar hari dimana pesta pernikahan diselenggarakan tidak bakal "menganggu" lainnya. Tidak berbeturan dengan event lainnya. Sehingga semua doa restu untuk kedua mempelai jadi maksimal - termasuk kado dan amplopnya. Lamak di awak katuju di urang.

Maka dalam babaua yang merupakan bagian dari prosesi tukar cincin (tunangan), kedua keluarga yang akan bersatu tersebut duduk berunding dengan semua unsur masyarakat. Karena disini urusan pernikahan bukanlah semata urusan keluarga kedua mempelai semata melainkan segenap masyarakat. Makanya bakal nampak hadir disana Kepala Desa, Kepala Dusun sebagai unsur administrasi, Palo mudo, para bujang kampung yang siap manatiang, ibu-ibu yang bergerak gesit di dapur. Semua ikut sibuk, ikut senang.

Begitu dahsyat adat di kampung. Masih kental dan radikal. Syarak mengato adaik mamakai.

Biasanya hari alek (pernikahan) tak begitu lama setelah acara tukar cincin. Apalagi bila musim hujan seperti sekarang, cenderung lebih dekat. Kalo sudah ada alek maka muncul pula alek yang lain. Beruntutan. Apalagi kalo para mempelai satu angkatan pertemanan. Mereka bakal menyusul menikah. Barakallah!

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search