Saturday, October 10, 2015

Palo Mudo

Di usia sekarang ini saya baru saja menemukan sebuah kenyataan unik pada nama ayah saya. Sebuah paradoks.

Ayah saya bernama Nasir. Sebagai orang sumando dalam suku Minang, ayah selalu dipanggil dengan gelarnya bukan nama aslinya. Setiap laki-laki dewasa memang dipanggil sesuai gelar yang diwarisi menurut garis keturunan ayah. Jadi nanti saya dan semua saudara laki-laki pun bakal mewarisi gelar ayah. Alhasil nama ayah jarang terdengar di seluruh pelosok kampung. Masyarakat memanggil beliau dengan panggilan Sidi atau Palo Mudo (Kepala Pemuda). Kenyataan ini saya namakan Paradoks A.

Tentu saja panggilan gelar tersebut lebih sering dilontarkan oleh kaum perempuan sebagai bentuk penghormatan secara adat. Sedangkan dalam kehidupan bermasyarakat ayah lebih sering dipanggil Palo Mudo karena kedekatan beliau dengan kaum muda. Dan sebutan tersebut hanya dimiliki oleh seorang lelaki dalam tiap kampung dan tidak bisa diwariskan. Artinya saya tidak bakal dipanggil Palo Mudo nantinya karena sebagai perantau, saya tidak aktif dalam kehidupan masyarakat di kampung.

Memang asyik bagi mereka yang menjadi Palo Mudo ini populer di tengah masyarakat. Tanpa gaji atau honor, seorang Palo Mudo bakal selalu diundang dalam setiap kegiatan, musyawarah, kenduri dan event-event lain dengan pelayanan khusus. Maksudnya khusus ya beda aja. Misalnya perginya dijemput, pulangnya diantar.

Sekali lagi kenyataan ini membuat nama ayah saya tak dikenal di kampung. Bukan apa-apa sih karena memang seperti yang saya bilang diawal, kaum lelaki dipanggil berdasarkan gelar.

Lalu gimana kalo gelar mereka sama?

Pertanyaan bagus! Tak mustahil ada dalam suatu momen didapati sekelompok laki-laki berkumpul. Misal saat ada musyawarah kampung. Tentu ada yang bergelar sama hadir disana. Cara memanggil mereka adalah dengan menyebut nama mereka sesudah gelar. Contoh, Sidi Riyan ada pendapat demi musyawarah ini?

Berkebalikan dengan kenyataan pertama yang membuat nama ayah saya jadi paradoks adalah nama beliau begitu terkenal di luar negeri. Apalagi di negara-negara Eropa dan Amerika.

Para bule tentu tidak akan memanggil berdasarkan gelar kepada ayah. Dan selama mereka masih menggunakan bahasa Inggris sebagai alat komunikasi selama itu pula nama ayah akan selalu disebut seantero penjuru negeri.

Yes Sir!

Thank you Sir!

Hello Sir. Can i help you?

6 comments:

  1. Tambaha gelar adat itu tidak identik dengan tambahan penghasilan, hasil penghormatan masyarakat lokal aja..namun beban moralnya cukup tinggi. tapi tetap harus dilestarikan.

    btw salam kenal.

    ReplyDelete
  2. Cerita yang satu ini, lain dari yang lain, menyentuh sisi ayah yang terkait langsung dengan masyarakat, hm,,, oia, mas ryan, minang itu sampai mana ya yg bisa dikatakan minang? Apakah padang juga minang? hehe, soalnya teman ada dari padang, tapi saya agak bingung.

    Tunggu email dari saya ya, untuk pengiriman buku, nanti saya minta alamat lengkapnya. :) Terima kasih mas sudah ikut memeriahkan bagi2 buku gratis saya :D

    ReplyDelete
  3. Sepanjang yg saya tau, Minang itu murni tentang suku. Jadi orang Padang belum tentu orang Minang. Saya pernah dengar kisah teman bahwa di Malaysia sana orang Minang lebih dihormati ketimbang orang Padang atau mengaku berasal dr Sumbar. :)

    Satu lagi, yang jelas orang Minang pasti agamanya Islam.

    ReplyDelete
  4. […] masyarakat. Makanya bakal nampak hadir disana Kepala Desa, Kepala Dusun sebagai unsur administrasi, Palo mudo, para bujang kampung yang siap manatiang, ibu-ibu yang bergerak gesit di dapur. Semua ikut sibuk, […]

    ReplyDelete
  5. […] memperoleh mimpi. Mimpi bertemu ular. Mimpi pertanda datang jodoh. Entah itu keyakinan murni atau sekedar cara ayah menguji kami, para […]

    ReplyDelete

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search