Tuesday, October 06, 2015

Jangan Berharap Tanpa Berusaha

Lain dulu lain sekarang. Kita sadari diri kita sudah berbeda situasi dan kondisi. Semua ada di tangan kita.

Jangan berharap tanpa berusaha. Untuk menentukan arah dan langkah kedepan, dan kita sadari pula bahwa setiap kita memiliki keterbatasan masing-masing dalam bidang tertentu. Namun dalam keterbatasan itulah kualitas nyali dibuktikan.

Keterbatasan bukan alasan. Keterbatasan bukan kekurangan. Keterbatasan adalah kesempatan pembuktian.

Saya menjadi teringat peristiwa saat masa remaja dulu. Saya lahir di kota Pariaman, sebuah kota madya di propinsi Sumatra Barat. Kota yang di katakan lengang/sepi di hari biasa dan akan ramai di saat acara tabuik di tanggal 10 Muharram tahun hijriyah. Saya merupakan anak sulung dari 6 bersaudara. Saya merupakan anak yang biasa saja, tidak terlalu pintar, tidak atletis atau semacamnya. Berbeda sekali dengan adik-adik Saya yang cerdas dan atletis.

Ayah bekerja di sebuah sekolah dasar negeri sementara ibu bekerja dirumah mengurus keluarga.

Masa kecil kami sangat menyenangkan, walaupun jauh dari kemewahan. Di masa Saya masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), sedang heboh-hebohnya permainan playstation. Dimana-mana ada tempat rental PS dengan tawaran tarif yang terjangkau untuk uang jajan anak sekolahan. Saya pun terbuai dan mabuk untuk bermain playstation terus. Saya sanggup tidak jajan agar dapat bermain PS barang 1 sampai 2 jam. Sanggup pulang malam dan dimarahi orang tua.

Kegilaan ini membawa dampak buruk terhadap diri saya sendiri. Di saat ujian akhir nasional nilai matematika saya tidak memenuhi kriteria untuk masuk SMA/SMK favorit. Dengan berat hati saya masuk di SMK yang kurang diminati. Di saat itu saya sadar terlalu larut dengan kesenangan sesaat tanpa memikirkan masa depan.

Walaupun bersekolah di sekolah biasa, saya harus membuktikan bahwa saya tidak akan kalah dari anak-anak yang bersekolah di sekolah favorit yang katanya memiliki standar nasional. Dengan tekad untuk maju dan beban moral atas kesalahan dimasa lalu, saya mampu meraih nilai yang baik. Saya pun melanjutkan kuliah di kota Sekayu, nama ibu kota kabupaten di provinsi Sumatra Selatan.

Dengan hasil berjualan sendal dan sepatu, saya menimba ilmu dengan tekun. Segala puji hanya milik Allah SWT, Rabb yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Saya pun mampu lulus dengan nilai cemerlang. Sekarang saya bekerja sebagai Kepala Keuangan di sebuah Hotel Bintang Tiga di kota Sekayu.

Seseorang tidak akan mendapatkan dari apa yang dia harapkan, Namun dia akan mendapatkan dari apa yang dia usahakan (Aa Gym)

Post a Comment

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search