Friday, July 24, 2015

Sekelumit Pilu

Hampir dua bulan sudah saya menapaki kampung halaman. Segenap penjuru kampung telah saya jajaki. Jalan-jalan perkampungan yang sunyi dan hening kembali saya tapaki sebagaimana dulu dikala masa kanak yang suka malala. Semuanya menghasilkan satu kesimpulan singkat, kampung saya telah banyak berubah.

Pembangunan menggagahi segenap rupa kampung. Apalagi pasca gempa yang menghoyak pada tahun 2009 silam turut berperan membawa perubahan besar, mulai dari pembangunan fisik sampai kehidupan masyarakatnya. Perubahan adalah keniscayaan.

Mungkin saya satu-satunya yang tidak siap dengan keadaan tersebut. Karena sampai saat ini saya belum kunjung berubah, membaik. Saya terlalu lambat beradaptasi ulang dengan kehidupan di kampung. Terlebih dari segi bahasa komunikasi.

Sampai saat ini belum kunjung menguasai kembali sepenuhnya bahasa daerah kampung halaman. Sering kali bahasa rantau bertaburan, menyelinap dalam setiap bertutur kata. Teramat pilu rasanya manakala seorang teman meledek saya siang tadi (kemaren) tentang bahasa dan logat yang terujar dari lidah ini. Saya sendiri tak habis mengerti kenapa bisa begini. Ada apa dengan (lidah) saya?

Tak sampai disitu, rasa pilu ini ternyata berlanjut. Teman yang meledek tadi adalah teman lama sejak SMP dan baru bersua kembali hari ini setelah hampir 8 tahun lamanya. Dia mengajak saya berjumpa dengan teman-teman yang lain yang juga sedang berada di balai kota. Memang bukan sekedar teman, lebih dari seorang sahabat. Satu geng, satu perkoncoan. Namanya Cassandra, nama yang tentu saja bukan nama sebenarnya. Dia memang gadis yang paling "lebih dari sekedar biasa". Paling atraktif, paling dinamis, paling diincar perhatiannya. Mengenalnya adalah salah satu anugerah terindah.

Perjumpaan kembali dengan Cassandra lebih saya rasakan sebagai rentetan pilu berikutnya. Hari ini terasa teramat berat.

Bagaimana tidak, dibalik kebahagiaan berkumpul dengan para sahabat entah kenapa momen paling memalukan antara kami berdua beberapa tahun lalu terlintas mendadak di ruang ingatan. Benar-benar merusak mood dan suasana. Saya jadi khawatir dia bakal mengingatnya pula. Hampir saja terpanjatkan doa agar saya amnesia saat itu juga, sejenak melumpuhkan ingatan ini.

bersambung...

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search