baselodotcom
Loading...

Radio Zombie

Konon ada sebuah kapal yang berlayar di hampir seluruh lautan di dunia dan tidak pernah bisa berlabuh sekalipun. Pelaut yang berjumpa dengan...

Konon ada sebuah kapal yang berlayar di hampir seluruh lautan di dunia dan tidak pernah bisa berlabuh sekalipun. Pelaut yang berjumpa dengan kapal ini saat berlayar bakal mendapat musibah. Konon perjumpaan dengan kapal ini mengakibatkan para pelaut mendapat kutukan. Dan salah satu cara menghindari kesialan bila kebetulan berpapasan dengan kapal angker tersebut adalah dengan memasang tapal kuda di tiang layar kapal. Itulah Kapal Flying Dutchman.


Yang menyetir kapal tersebut mungkin seorang kapten yang amatir atau masih magang sehingga nggak bisa menepi berlabuh sekalipun. Awak kapalnya pun juga belom punya pengalaman berlayar yang mumpuni.


Beberapa hari ini saya sedang mempunyai hobi baru. Hobi lama yang kumat lagi tepatnya. Dulu saya suka mantengin salah satu  radio di kota ini. Sepanjang hari saya selalu bersama mbak-mbak penyiar radio tersebut. Dia jomblo saya pun begitu. Dia di studio, saya di toko.


Di radio, kita bisa saling komunikasi dengan pendengar lain. Saling request lagu, kirim salam lewat udara dan berbagi informasi. Hampir seluruh muda-mudi di kota ini familiar banget dengan saluran radio termasuk para penyiarnya (announcer). Apalagi penyair yang cewek banyak tuh penggemarnya. Tapi saya nggak termasuk penggemar mereka. Kenapa? Tak lama kemudian saya akhirnya tahu bahwa para penyiar radio itu satu angkatan satu kampus namun beda fakultas saja. Dan akhirnya pernah bergabung satu tim KKN.


Konon katanya kalo kerja di radio tersebut idaman banget. Populer! Makanya salah satu teman saya pernah ikutan audisi tuk jadi penyiar disana. Tapi itu dulu.....Semua berubah setelah Android menyerang!


Yup! Setelah saya memakai ponsel android, lupa dah hobi mendengar radio itu. Level kegaulan saya langsung anjlok berganti dengan level ke-update-an yang meningkat. Sejak itu hobi saya berganti membaca berita dan info terbaru dengan online. Memang ini bukan prestasi kok. Biasa saja. Saya tak tahu menahu lagi dengan radio tersebut dan komunitas pendengarnya yang fanatik tersebut.


* * * *


Sekarang saya sedang memutuskan untuk tidak memperpanjang paket inet ponsel ini. Alhasil beberapa hari ini saya merasa kesepian. Makanya kembali ke hobi lama. Mantengin radio. Selain ngeblog tentu saja.




Namun sayang seribu kali satu sayang. Seperti kapal Flying Dutchman, radio paling populer di kota ini seakan tanpa nahkoda. Mengudara tanpa arah.



Sepanjang hari mantengin radio ini tak pernah sekalipun saya mendapati suara sang penyiar. Hanya alunan musik yang menyeruak ruang dengar tanpa henti. Ramai tapi hampa. Sebenarnya radio tersebut berafiliasi dengan pemerintah daerah. Jadi kepengurusannya berada di bawah Diskominfo dan diklaim radio ini mengudara 24 jam tanpa henti.


Radio Zombie!


Tanpa penyiar tapi sanggup menyala 24 jam tanpa henti. Ada pula iklan berseliweran. Siapa pengendalinya? Virus T? Tak ada lagi celoteh manja mbak-mbak penyiar. Tak ada lagi lelucon garing mas-mas penyiar. Tak ada lagi rebutan request lagu. Tak ada lagi titip salam di udara. Tak ada lagi kebersamaan itu...


Menyadari satu kenyataan di atas membuat saya khawatir dalam tanya, akankah radio bakal punah ditengah serbuan perangkat portabel (gadget) yang terkoneksi internet? Internet jadi sumber daya utama. Mampukah radio internet menggantikan radio konvensional dan mengulang kepopulerannya?

Home item