baselodotcom
Loading...

Kau Tepati Janji Suratmu

Sore ini kuharap seperti senja-senja sebelumnya, jingga tersenyum dengan sirat merah, dikulum kilau cahaya keemasan. Kupatut diri di depan c...

Sore ini kuharap seperti senja-senja sebelumnya, jingga tersenyum dengan sirat merah, dikulum kilau cahaya keemasan. Kupatut diri di depan cermin, menimbang apakah setelan kemeja nila dengan rok selutut ini pantas kukenakan untuk bertemu denganmu. Kupoles bedak setipis mungkin, mengingat ucapanmu tentang rona pipiku yang hilang tertindih bedak. Tak lupa kupasang lipgloss pada bibirku, sekedar menghapus kesan pucat pada wajahku. Aku ingin tampil cantik namun tetap alami di hadapanmu.


Sore ini seperti yang tertulis di suratmu, kau akan kembali padaku, menggenggam jemari yang telah lama kau biarkan kosong. Dengan langkah santai aku menuju ayunan itu (kau membuat sendiri ayunan itu, bermodalkan ban yang kau potong menyerupai kursi dan tali tambang yang kau ikat pada dahan pohon), tempat kita berbagi cerita, bersenda gurau hingga hari paling menyedihkan itu datang.


Aku masih mengingat jelas runutan kejadian hari itu. Tak biasanya sepagi ini kau mengajakku bertemu di tempat ayunan kita. Aku tak menaruh curiga, kupikir kau sedang merinduku dan aku senang karena pemikiranku itu.


Sepanjang pagi hingga hampir siang, kau masih terdiam, tak seperti biasanya, kau harus tahu bahwa senyum terpaksamu terlihat sangat aneh dan kentara. Tiap pembicaraan dan pertanyaan yang kulontarkan, kau hanya menjawab seperlunya; “iya”, “mungkin”, “tidak” dan “tidak tahu”, jawaban itu sungguh menggelitik rasa penasaranku.


Kuberanikan diri untuk bertanya ada apa gerangan dengan dirimu, kau masih menjawab “tidak apa-apa, sayang” sembari tersenyum dan menyentuh pipiku. Namun lagi-lagi, senyuman itu terlihat berbeda bagiku. Lalu kugenggam jemarimu erat, kutatap matamu seolah aku berkata, “jujurlah sayang, aku tak apa. Jangan sembunyikan sesuatu dariku”.


Di luar dugaanku, kau menitikkan air mata, membalas genggamanku lebih erat kemudian menarikku kedalam pelukanmu. Kau bisikkan sebuah pertanyaan yang menusuk relungku, “Apakah kau mengijinkanku untuk menerima pekerjaan di benua tetangga?”, begitu tanyamu. Pertanyaan itu sungguh membuatku dilema, akupun terdiam tak menjawab. Lalu kau lanjut berkata, “tak apa, jika tak kau ijinkan maka aku tak akan menerima tawaran ini”.


Aku tetap terdiam namun hatiku ramai berdiskusi; ego, kasih, kepercayaan, pengorbanan, dan segala jenis rasa dalam hati turut andil dalam bersuara. Jika aku tak mengijinkanmu pergi, maka egolah yang menang. Jika aku mengasihi pria yang sedang memelukku ini, harusnya kuijinkan saja pergi. Bukankah cinta itu tentang pengorbanan dan kepercayaan?


Dengan yakin aku berkata, “pergilah, sayang. Gapailah apa yang ingin kau gapai. Aku akan menunggumu. Walau daun jati habis meranggas, aku tetap menunggu. Walau musim gersang surutkan air, aku tak akan lelah menanti. Pergilah, aku tak akan apa-apa di sini”.


Mendengar jawabanku, kau tersenyum; senyum yang kukenal selama ini. Kau cium keningku begitu lama, momen terfavoritku.Sehari sebelum kepergianmu, kusiapkan segala keperluan yang akan kau bawa. Kulipat tiap lembar bajumu dan kumasukkan ke dalam koper hitam itu.


Seandainya kau tahu, aku ingin menjelma menjadi lipatan terakhir baju yang masuk ke dalam kopermu dan mengejutkanmu saat tiba di sana.


Tiba saatnya dirimu pergi, meninggalkanku di sini dengan janji akan kembali. Kujejalkan segela resah dan gelisah ke dalam keranjang sampah. Tak kubiarkan muram yang tercecer pada tiap langkahku mengganggu langkahmu. Di ayunan itu, kau memintaku untuk tidak menangis selama menanti kedatanganmu kembali. Kau membenci air mataku, sama seperti halnya kau membenci bedak yang kupoles, “kau hilangkan lagi rona pipi yang membuatku jatuh cinta berkali-kali”, begitu keluhmu tiap melihatku menangis atau memoles bedak terlalu tebal.


Sebelum berangkat, kau berbisik bahwa kau akan menulis surat untukku kelak ketika kebahagiaan telah kau genggam.Dan di sinilah aku, di ayunan kita. Sembari mengingat pengorbanan menantimu, tak ada satupun surat yang datang. Saat embun pagi menyapa, aku ingin menguap bersama mereka dan menjelma menjadi rintik hujan di kotamu. Atau saat sang anak-anak fajar berlarian melalui tirai jendela, aku ingin berlari bersama mereka dan berubah menjadi senja jingga yang tampak indah di jendela kamarmu.


Sekian musim silih berganti, tak ada satu suratpun darimu yang kuterima. Hingga kemarin siang, pak pos mengetuk pintu rumahku dan mengantar surat darimu. Kubuka amplop coklat itu, tak sabar ingin kuketahui kebahagiaan apa yang akan kau bawa padaku lalu kutemukan surat undangan pernikahanmu. Dan ada catatan kecil dengan tulisan tanganmu yang kuingat betul lekuk hurufnya.


“Temui aku besok sore di ayunan kita, akan kukenalkan kau dengan calon istriku”


___
Penulis: Image: Deviantart

Home item