Friday, July 11, 2014

Aroma Lebaran Bikin Galau


Lebaran alias Hari Raya Idul Fitri tahun ini belom bisa dikatakan dekat atau sebentar lagi. Dibutuhkan 2 purnama lagi untuk sampai disana. Sekarang baru Rajab trus Syaban lalu Ramadhan baru deh Syawal.

Namun aroma lebaran udah tercium sedari kemaren. Manajemen tempat saya bekerja sedang merumuskan kebijakan perihal THR. Yaitu tentang mekanisme perhitungan besaran nominalnya, waktu pembayaran dan lamanya cuti lebaran. Aroma lebaran yang begitu harum menusuk.


Dari sisi internal keluarga aromanya lain lagi. Lebih gurih nikmat. Beberapa hari yang lalu, Ibu berulangkali mengirim sms meminta saya membawa laptop kalo pulang kampung nanti.


"Ikhsan yang minta" ujar Ibu


Ikhsan adik bungsu saya yang sekarang sedang bersekolah kelas....entah saya lupa. Mungkin kelas 3 SD. Tahun lalu ketika pulkam dia menjajah laptop saya untuk memainkan Counter Strike layaknya maniak game. Saya hanya bisa bingung dalam diam, sejak kapan dia mengenal komputer?


Mencium semua aroma menjelang lebaran ini benar-benar membuat saya galau. Gagal move on.


Jujur saja penyebab galaunya tak lain dan tak bukan adalah perihal salam tempel pas lebaran. Owhhhhh.....


Selain masalah saya belom punya kekuatan ekonomi yang memadai, mereka yang berpotensi menerima salam tempel tersebut diduga bakal meningkat. Saya benar-benar khawatir!


Berkaca pada pengalaman lebaran tahun lalu yang sukses membuat saya kikuk plus kelabakan melihat jumlah massa penerima salam tempel tentu sedari sekarang bersiap-siap menjadi sesuatu yang sangat penting. Mencari sumber penghasilan lain guna menyokong kekuatan kantong menjadi prioritas saat ini.


Saya lupa.
Saya telat menyadari.
Saya......bego


Ternyata saya udah punya banyak keponakan!
Mulanya saya kira penerima salam tempel hanyalah adik-adik kandung, kerabat lainnya dan tetangga saja.  Eh siapa sangka ternyata saya sekarang udah punya beberapa keponakan, buah pernikahan dari saudara sepupu pihak ibu. Merekalah para penerima salam tempel tersebut. Jadi berapa populasi mereka? Berapa estimasi dana yang perlu dianggarkan? Saya mendadak mumet.


Bukan perihal ikhlas atau tidak ikhlas. Ini lebih kepada kekuatan ekonomi individu saja. Takut mengecewakan mereka dan tentang bagaimana saya harus adil dalam memenuhi hak-hak mereka. Lagipula momen bertemu dan berkumpul dengan mereka sangatlah jarang.





Berapakah nilai kebersamaan dan rasa kekeluargaan itu?

Kalo pulang kampung ke Padang berarti saya bertemu dengan seluruh keluarga besar beserta aliansinya dari pihak ibu. Kalo berlebaran di Palembang berarti saya berlebur dengan keluarga besar dari pihak ayah.


Sudah 3 tahun saya tidak berlebaran di Palembang. Kenapa? Lha wong saya berdomisili disini. Siapa nanya?
Kalo disuruh memilih antara Palembang dan Padang, ingin berlebaran dimana?
Saya ragu menjawab. Yang dijelas kalo dari keluarga besar di Palembang sini saya belom punya keponakan. Adik-adik pun udah gede semua. Alhasil penerima jatah salam tempel dapat diminimalisir. Hehehe


Haruskah saya mencari sponsor untuk agenda pulang kampung? Jadi dengan begitu pihak sponsor dapat memasang iklan di header blog ini selama setahun penuh (sampai lebaran tahun depan) tanpa biaya alias gratis. Jenius? :)



Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search