Wednesday, January 22, 2014

Pempek Mata Melotot (Repost)


Dua hari yang lalu adek sepupu saya-sebut saja azwa, menelpon karena ingin curhatannya di dengar. Seperti biasa, masalah cewek tak jauh dari seputar lawan jenis. Mario Teguh bilang, masalah utama wanita adalah pria. Maybe No, Maybe Wrong

 

Tak mau mendengar keluh kesahnya yang klise dan berulang-ulang, saya berinisiatif menghibur dia. Saya tidak punya ide dan bakat apapun untuk membuat orang lupa akan masalahnya, tapi malam itu entah kenapa saya membawa topik pembicaraan merembet pada topik makanan. 

 

Saat libur lebaran tahun lalu saya dan azwa yang sedang kalut itu pulang kampung bersama untuk pertama kalinya. Sebelumnya dia tinggal di Medan. Maka jadilah mudik tahun kemaren itu menjadi pengalaman tak terlupakan. Ya saya dapat teman yang menemani perjalanan :)

 

Singkat cerita, 2 hari setelah idul fitri, ibu meminta Azwa membuat pempek karena ibu kepengen makan makanan asli Palembang tersebut. Awalnya azwa menolak karena merasa tak punya kompetensi dan pengalamannya yang minim, namun karena terus kami desak akhirnya dia luluh. Kami pun segera menyiapkan bahan-bahan dan peralatan untuk eksekusi.

 

Setelah makan malam, sajian pempek ala azwa pun dihidangkan. Kami bersiap menyantapnya.

 

''Kalo indak lamak jan berang yo" ujar Azwa santai namun terasa mengintimidasi

 

Ayah yang terlebih dahulu mengambil potongan pempek lalu mengigitnya. Disusul oleh Rommy yang mengambil potongan terbesar. Berikutnya saya pun mengambil satu potong pempek dan mencelupkannya ke dalam wadah cuka. Aromanya begitu sedap. Sungguh menggiurkan.

 

Hening

 

Yang terdengar hanya suara gigi yang mengunyah payah. Nyaaaaam nyaaaammm...

Saya lihat raut wajah Rommy berubah. Potongan pempek masih setengah masuk ke mulutnya. Matanya membesar.

 

"Lamak mi?" tanya saya. Rommy diam saja.

 

Saya terus melumat potongan terakhir pempek lalu melihat nenek yang sedang mengambil pempek pertamanya.

 

"Lamak dak Pak?" tanya Azwa kepada ayah

 

Ayah baru menjawab setelah memastikan potongan pempek berhasil lolos memasuki perutnya,

 

"Lamak indak lamak, katokan lamak. Kalau idak lamak katokan sadang elok"

 

Spontan rommy melotot ganas. Pempek yang susah payah digigitnya akhirnya meluncur menuju lambung. Saya tak kuasa menahan tawa. ibu turut tergelak. Suara kunyah mengunyah berubah tawa.

 

Azwa berubah kikuk, wajahnya sedikit merah menahan malu. Saya gagal menghentikan tawa.

Sedari awal saya telah merasakan pempek bikinan azwa begitu aneh. Super ketat, mirip karet. Rasanya memang enak tetapi sedikit lebih keras. Saya memilih diam dan menunggu reaksi ayah dan rommy yang notabene jarang makan pempek.

 

Anehnya walau terasa bak makan karet dan perlu tenaga dalam untuk melumatnya, pempek buatan azwa tetap ludes dalam sekedar. Selain itu cuka pempek buatan azwa tak bermasalah. Top markotop!


Ketika mengingat peristiwa ini dan menceritakannya di telepon malam itu saya tak kuasa menahan tawa bahkan lebih parah. Seumur-umur rasanya baru malam itu saya tertawa begitu ngakak sampai keluar air mata. Suara saya pun jadi berubah dan perut terasa kencang. Azwa yang tadinya galau gundah gulana juga gagal menahan dirinya untuk tidak tertawa. Gelak tawanya pecah di ujung telepon. 

 

"Udah Bang. Jangan diterusin. Adek malu!" 

 

Saya masih saja tertawa sampai jumpalitan. Azwa langsung menutup telepon. Saya tahu dia tak merajuk, hanya ingin menikmati tertawa seorang diri. 

 

Saya tak peduli apa yang salah dalam komposisi pempek buatan azwa. Yang pasti saat malam lebaran itu azwa berhasil membuat suasana menjadi hangat dan semarak.

Whatsapp Button works on Mobile Device only

Start typing and press Enter to search