baselodotcom
Loading...

Antara Moco, Kobo dan Google Play Books

Assalamualaikum wr wb Source: DailySocial   Tadinya saya mau komplain dengan Moco , sebuah aplikasi penyedia ebook yang membantu pengguna m...

Assalamualaikum wr wb
Source: DailySocial

  Tadinya saya mau komplain dengan Moco, sebuah aplikasi penyedia ebook yang membantu pengguna membaca buku digital di gadget. Ternyata saya yang keliru karena telah dijelaskan aplikasi ini masih versi beta (malah non beta karena versi beta baru rilis Januari 2014). Wajar fiturnya ga terlalu mumpuni. Sila baca ulasan lengkapnya disini. Jadi saya ga jadi deh membeberkan fitur Moco, nanti saja setelah rilis resmi. :)

  Saya harap Moco bakal jadi killer app Kobo bahkan Google Playbook yang sudah melalang buana. Kenapa? Moco menyediakan konten lokal dan lebih bermutu karena buku yang tersedia lebih banyak bergenre sains dan edukasi.

  Saat ini saya (masih) mengandalkan Kobo untuk menikmati berbagai buku digital. Ada puluhan genre dan ratusan judul buku tersedia disana. Selain itu Kobo juga dirasa lebih sosial dengan adanya fitur sharing buku ke Facebook dan sistem reward. Karena kontennya yang universal alias bahasanya Inggris semua, Kobo menyediakan kamus yang bisa di download bersamaan. Tapi sebagai catatan saya tak mendapatinya lagi setelah update aplikasinya beberapa hari lalu. Entah dimana kamus itu berada.

  Lainnya halnya dengan Google Playbook. Aplikasi keluaran Mbah Google udah terintegrasi dengan Google Translate yang sifatnya online. Artinya kalo ga ada jaringan internet, fitur kamus ini sembunyi entah kemana.

Pilih mana, Kobo atau Google Playbook?

 Dua-duanya sama keren dan canggih sehingga kelebihan dan kelemahan keduanya hanya bisa dikomparasikan secara head to head. Dari segi ukuran aplikasi, fitur, interface dan performa kedua sulit diadu.

 Di gadget saya, Kobo lebih rakus makan memory internal sehingga saya mendepaknya ke memory eksternal. Ukurannya sedikit sebih gede dari Google Playbook. Mungkin karena ada kamus yang di download terpisah.

  Fitur? Google Playbook tersinkronisasi dengan akun Google. Jadi lebih memudahkan pengguna mendapati kembali buku-buku yang telah didonlot bila aplikasi ini terhapus. Selain itu pengaturan display lebih mumpuni, bisa atur tingkat kecerahan, tampilan paragraf dan transisi halaman buku yang lebih lembut. Mirip buku beneran.

  Kalo Kobo mah interfacenya lebih imut dan ramah. Ga kaku kayak rivalnya itu. Ada rak untuk memajang buku-buku yang telah kita download. Lebih sosial karena bisa berbagi ke Facebook tentang buku apa yang sedang kita baca. Selain itu konten buku bisa kita salin dan jadikan status Facebook. Kobo tampaknya berusaha meningkatkan pengalaman membaca dan mempertahankan loyalitas pengguna dengan cara "menyuap". Ada reward yang diberikan apabila pengguna telah melampui suatu skema tertentu. Minusnya, tampilan buku di Kobo cenderung kaku dan ga rapi. Efek transisi setiap perpindahan halaman juga tidak selembut Google Playbook.

  Terlepas dari kelemahan dan kelebihan kedua aplikasi penyedia ebook diatas, tetap fungsinya dirasa sangat berguna apalagi bagi yang maniak baca dan mereka (termasuk saya) yang ga punya cukup anggaran untuk membeli buku yang sebenarnya. Dan seperti yang saya bilang diawal, saya berharap Moco berkembang cepat, melibas aplikasi sejenis dan menjadi raja di negeri sendiri. Jadi ga sabar rilis resminya :)

  Namun harap diingat untuk selalu menjaga kesehatan mata. Membaca buku digital di gadget jauh lebih beresiko bagi mata ketimbang buku konvensional.

Wassalam

Home item